Tampilkan postingan dengan label Materi penyuluhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi penyuluhan. Tampilkan semua postingan

Kelompok Tani Jaya Teladan

Posted by : aah j-frog :D
0 komentar
Sabtu, 21 September 2013

Tugas
DINAMIKA KELOMPOK
( Kelompok Tani Jaya Teladan )
lu.jpg
Oleh
AAH NUR HERMAN MARUNTA
D1 a1 10 062

JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI

2013

Pendahuluan
Kelompok tani merupakan kelembagaan di tingkat petani yang dibentuk untuk secara langsung mengorganisir para petani dalam berusahatani. Kementrian pertanian mendefinisikan kelompok tani sebagai kumpulan petani/peternak.pekebun yang dibentuk sebagai bentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumberdaya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Kelompok tani dibentuk oleh dan untuk petani, guna mengatasi masalah bersama dalam usahatani serta menguatkan posisi tawar petani, baik dalam pasar produk pertanian.
Menurut Wahyuni (2003; 2) kelompok tani merupakan wadah komunikasi antar petani, serta wadah komunikasi antar petani dengan kelembagaan terkait dalam proses alih teknologi.
1.     Nama kelompok Tani : “Jaya Teladan
2.     Sejarah kelompok Tani :
Kelompok tani Jaya Teladan merupakan salah satu kelompok tani yang berada di wilayah Kecamatan Basala. Tepatnya berada di desa Suka Mulia dan di desa Polewali Kabupaten Konawe Selatan. Sejak berdiri 23 November 1987 terus berkembang dan saat ini jumlah anggota telah mencapai 62 orang  termasuk ke dalam kelas kelompok tani lanjut.
Meningkatnya jumlah petani yang masuk menjadi anggota kelompok tani karena mereka telah melihat kinerja pengurus yang semakin maju, baik dalam kegiatan usahatani, mencari dan menyebarkan informasi kepada anggota, penyaluran saprodi serta pengembangan modalnya. Kemajuan kinerja kelompok tani Jaya Teladan disamping karena kesadaran anggota kelompok tani juga karena dukungan dari Kepala Desa Polewali dan Sukamulia beserta perangkat desa serta peran serta tokoh masyarakat lainnya. Dalam perkembangannya sejalan program Pemerintah dalam peningkatan produksi jagung menuju swasembada, Kelompok tani Jaya Teladan berpartisipasi penuh dalam pelaksanaannya.
Lahan sawah kelompok tani Jaya Teladan adalah tadah hujan sehingga komoditas yang diusahakan pada saat tidak musim hujan adalah Sayur seperti sawi, bayam, kacang panjang dll terutama jagung. Bagi anggota kelompok tani jagung merupakan tanaman untuk makanan pokok kedua setelah beras. Sehingga dalam berbudidaya tanaman jagung berusaha untuk menggunakan teknologi maupun sarana produksi yang unggul. Berbagai macam varietas dicoba untuk dikembangkan, sehingga dapat dipilih varietas yang diinginkan dengan kriteria produksinya tinggi, tahan kekurangan air atau tahan kering, punya nilai jual yang tinggi serta benihnya yang agak murah serta berumur agak pendek kerena untuk mengejar musim.
Sebagai dasar arah perjuangan, Kelompok Tani Jaya Teladan sudah menetapkan Visi dan Misi. Adapun Visi dan Misi tersebut adalah sebagai berikut:
v  Visi dan Misi
1.   Visi
Terwujudnya masyarakat tani yang sejahtera melalui pemanfaatan sumber daya tanaman pangan dan hortikultura yang berdaya saing, adil, demokratis dan berkelanjutan”
2. Misi
v Mengembangkan usaha agribisnis jagung untuk meningkatkan produksi, nilai tambah
v Meningkatkan pemberdayaan kelompoktani menuju kelembagaan yang kuat dan   mandiri
v Meningkatkan ketrampilan budidaya bidang pertanian dan mengembangkan usaha agribisnis
v Meningkatkan kualias kemampuan SDM anggota
v  Mengembangkan komoditas usaha tani secara terpadu (tanaman dan ternak).

3.    Organisasi :
1.     Dasar Pembentukan
Pembentukan kelompok tani Jaya Teladan Desa Sukamulia dan polewali Kecamatan Basala berdasarkan musyawarah yang dihadiri oleh seluruh anggota kelompok tani, Tokoh masyarakat, Kepala Desa dan PPL pada tanggal 23 November 1987. Pada awalnya kelompok tani ini berjalan tersendat-sendat disebabkan karena keterbatasan modal, dan SDM. Pada tanggal 23 November 2005 kelompok tani Jaya Teladan melakukan revitaslisasi dan penggantian pengurus supaya organisasi kelompok tani berjalan lebih baik sampai dengan masa yang akan datang.
2.    Susunan Pengurus
Kelompok tani Jaya Teladan dalam melaksanakan kegiatannya dikelola oleh sebuah kepengurusan yang terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara dan dibantu oleh beberapa seksi – seksi. 
3.    Keanggotaan
Keanggotaan kelompok tani diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yaitu keanggotaan bersifat sukarela dan anggota merupakan petani penggarap maupun rumah tangga tani. Sejak awal pembentukan kelompok tani Jaya Teladan pada tahun 1987, jumlah anggotanya terus mengalami peningkatan sampai sekarang telah berjumlah 62 orang. 
SUSUNAN PENGURUS KELOMPOK TANI JAYA TELADAN

KETUA                 I     :  HJ.  YUSUF SUGIYONO
                            II   :   SUTARJI                          
SEKRETARIS      I     :   WINARKO
                           II    :   SURTINI
BENDAHARA      I      :   SURATMI
                           II    :   FATIMA

BIDANG – BIDANG PERTANIAN
1.      Ketua Bidang Tanaman Pangan :
a.  Mahmuddin
b.  Suyanto
2.      Ketua Bidang Perternakan :
a.   Ponari
b.  Bamban
3.      Ketua Bidang Perikanan :
a.   Gito
b.  Komarudin
4.      Ketua Bidang Perkebunan :
a.  Suwarso
b.  Arman
5.      Ketua Bidang Ekonomi dan Pemasaran :
a.    Mu’ari
d.    Bonadi

Nama yang ada diatas adalah anggota pengurus kelompok tani Jaya Teladan adapun dari orang yang saya tidak sebutkan mereka berperan sebagai anggota.

4. Orientasi Kelompok Tani

A, Tujuan pembentukan Kelompok Tani Jaya Teladan
v Meningkatan  jiwa kerjasama antar petani.
v Mem cepat proses difusi penerapan inovasi atau teknologi baru.
v Membantu meningkatkan orientasi pasar, baik yang berkaitan dengan masukan (input) atau produk yang dihasilkannya.
v Membantu efesiensi pembagian air irigasi serta pengawasannya oleh petani sendiri.
v Meningkatkan produktivitas usaha tani melalui pengelolaan usaha tani secara bersamaan.


      



Read More....

Penyuluhan Sebuah Teknologi

Posted by : aah j-frog :D
0 komentar
Sabtu, 07 September 2013

I.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keberadaan Badan Litbank selama ini telah cukup berhasil dalam pengadaan inovasi pertanian beberapa inovasi (teknologi, kebijakan, kelembagaan) telah digunakan secara luas dan terbukti menjadi pemicu utama pertumbuhan dan perkembangan usaha dan system agribisnis. Salah satu bukti empiris, ialah revolusi hijau pada agribisnis padi dan jagung (hasil dari penemuan varitas-varitas unggul baru berumjur pendek) ataupun perkembangan, perkebunan kelapa sawit yang cukup pesat atas dukungan teknologi  perbenihan/penbibitannya. Akan tetapi, berdasarkan evaluasi eksternal maupun  internal, seiring dengan perkembangan waktu kecepatan dan tingkat kecepatan dan tingkat pemanfaatan inovasi yang dilakukan badan litbank pertanian cenderung  terlambat bahkan menurun.
Peran utama badan litbank pertanian dalam system inovasi pertanian nasional adalah menemukan atau menciptakan inovasi pertanian maju dan strategis, mengadaptasikannya menjadi tepat guna spesifik pemakaian dan lokasi, dan mengimpormasikan dan menyediakan materi dasar inovasi/teknologi. Sedangkan kegiatan penyuluhan, advoksi, dan fasilitasi agar inovasi tersebut di adopsi secara luas tidak termasuk tugas pokok badan litbank pertanian engan demikian tidak mengherankan apabila keberhasilan badan litbank peretanian tersebut  terhenti pada segmen pengadaan inovasi (generating subsistem), sedangkan perannya pada subsistem penyampaian inovasi (delivery subsistem) masih terbatas, dan praktis tidak terlibat aktif dalam subsistem venezimaan inovasi (receiping subsistem) dua subsistem terakhir tersebut merupakan duahal yang menyebabkan proses adopsi dan dipusi inovasi hasil bada litbank pertanian menjadi lambat.
Pada tatanan normative, indicator keberhasilan badan litbank pertanian dalam mengemban misi intitusionalnya adalah telah dimanfaatnkannya in ovasi tepatguna secra luas oleh masyarakat dan berdampak besar dalam mewujudkan tujuan pembangunan pertanian nasional.Hal tersebut dapat tewujud apabila system inovasi nasional, dari hulu sampai hilir berjalan dengan baik.
1.2 Rumusan Masalah
1. Jenis teknologi pertanian apa saja yang masuk ke desa Lipu Masagena?
2. Masalah apasaja yang ditimbulkan kibat masuknya teknologi baru tersebut?
3. Perubahan-perubahan apasaja yang terjadi pada masyarakat Desa Lipu Masagena akibat dari masuknya teknologi baru tersebut.
1.3 Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitain bersifat deskriptif dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran secara jelas bagaimana gambaran peranan teknologi itu terhadap perubahan sosial di Desa Lipu Masagena serta aspek apasaja yang berubah.Secara akademis tujuan penelitian ini untuk mengumpulkan data guna melaksanakan tugas dasar-dasar penyuluhan dan komunikasi pertanian.
Penelitian ini bermanfaat sebagai suatu proses atau bagian untuk menerapakan pengetahuan yang telah didapat dimasa-masa perkuliahan selama ini dan nantinya dapat diterapkan sebagai bahan pembelajaran untuk kedepannya secara akademis, penelitian ini diharapkan sebgai referensi serta pengkaryaan studi jurusan agribisnis dan juga melatih penulis untuk memebuat karya ilmiah serta sebagai salah satu bahan kajian yang dapat diperdalami lagi oleh para peneliti lainnya. Scara teoritis pada masyarakat Desa Lipu Masagena.Penelitian ini juga bermanfaat pembelajaran dan menambah wawasanpara petani tentang bagaimana pengguna alat-alat teknologi pertanian yang masuk ke Desa Lipu Masagena.Secara praktis penelitian ini bermanfaat sebagai sumbangan pemikiran dalam penanggulangan masalah-masalah di daerah-daerah pedesaan.











II.TINJAUAN PUSTAKA
Memilih inovasi tepat guna, memilih inovasi tepat guna merupakan istilah yang telah dipakai secara lauas dalam berbagai bidang, baik diindustri, pemasaran, jasa, termasuk pertanian. Secara sederhana, Adams (1988) menyatakan inovationis anidea or object perceived as new by an individual.
Dalam perspektif pemasaran , Simamora (2003) menyatakan bahwa inovasi adalah suatu ide, praktek, atau produk yang dianggap baru oleh individu atau group yang relevan. Sedangkan Kotler (2003), mengartikan inovasi sebagai barang, jasa, dan ide yang dianggap baru oleh seseorang.
Dari beberapa devinisi  tersebut inovasi mempun yai tiga komponen, yaitu : Ide atau gagasan, metode atau praktek dan produk (barang dan jasa). Untuk dapat disebut inovasi, ketiga komponen tersebut harus mempunyai sifat” baru”.Sifat baru tersebut tidak selalu berasal dari hasil penelitaian mutakhir. Melihat permasalahan yang telah disampaikan dalam bab sebelumnya , strategi percepatan adovsi dan difusi inovasi pertanian salah satunya dilakukan dengan membentuk program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (PRIMA TANI). Dalam prima tani terkandung pesan yang kuat tentang usaha mempercepat dan memperluas proses adopsi dan difusi inovasi yang dihasilkan Badab Litbank pertanian kepada masyarakat secara luas.
Salah satu factor yang mempengaruhi percepatan adopsi adalah sifat dari inovasi itu sendiri. Inovasi yang akan diintroduksi kedalam prima tani harus mempunyai banyak kesesuaian terhadapa kondisis biofisik, sosial, ekonomi, dan budaya yang ada ke petaniharus inovasi yang tepat guna.Strategi untuk memilih inovasi yang tepat guna adalah sebagai berikut:
Inovasi, inovasi harus dirasakan sebagai kebutuhan oleh petani kebanyakan agar masyarakat (petani) menerima (mengadopsi) suatu inovasi wrga masyarakat.Petani harus yakin bahwa inovasi itu memenuhu kebutuhannya benar-benar dirasakan. Inovasi akan menjadi kebutuhan petani apabila inovasi tersebut dapat memecahkan masalah yang dihadapi petani 



III. METODOLOGI PELAKSANAAN
3.1 Waktu Dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 23 September 2011 sampai selesai.Bertempat  di Desa Lipu Masagena, Kecamatan Basala, Kabuapten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara.
3.2 Alat Dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah data-data Desa Lipu Masagena, buku referensi, dan computer.
3.3 Teknik Yang Digunakan
Teknik yang digunakan adalah teknik literatur













IV. PEMBAHASAN
4.1 Penyuluhan Penerapan Teknologi Pertanian Modern
Penyuluhan adalah suatu proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumber daya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan poduktifitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian pungsi lingkungan hidup. Membangun system penyuluhan penerapan teknologi pertanian yang berhasil dan berdaya guna  tidak dapat dipisahkan dari dinamika kerja partisifatif antara penyuluh sebagai agen pembaharu informasi, adopsi, inovasi, yeknologi dan pelaku utama yang dihimpunkan dalam kelompok tani, kegiatan penyuluhan kegiatan teknologi pertanian modern dapat terwujud dengan mitra kerja didalam menjalankan peran, tugas dan pungsi secara memadai.
Desa Lipu Masagena, sebagai salah satu Desa yang berada di Kecamatam Basala memilki karakteristik dan luas lahan yang cukup luas dan diperlukan adanya alih teknologi, sehingga kondisi lahan tersebut dapat dimanfaatkan seefisienj mungkin oleh para petani penggarap guna memenuhi kebutuhan pasar dan meningkatkan kesesjahteraan. Pengembangan komoditas padi du Desa Lipu Masagena merupakan salah satu program pengembangan teknologi pertanian untuk mengatasi kelangkaan komoditas dipasar lokal. Untuk mewujudkan rencana dan program yang demikian dibutuhkan dukungan sumber daya SDM dan pembinaan yang ditujukan pada menejemen usaha pengelolaan lahan, efisiensi dan efektivitas berusaha dan bantuan teknologi serta evaluasi dan monitoring instansi terkait sejalan dengan itu maka sebagai implikasinya diperlukan suatu metode penyuluhan dan penerapan teknologi secara modern, sehingga kedepan para petani dalam mengelola usaha taninya dapat mengerti teknologi dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat tani dan pelaku usaha.
Dengan terwujudnya kegiatan ini maka akan menghasilkan output yang sangat baik dan berbenah bagi pelaku utama guna memanfaatkan sekaligus meningkatkan hasil produksinya dengan penerapan teknologi pertanian modern di Desa Lipu Masagena. Untuk itu peran penyuluhan pertanian sebagai penyuluh pendamping adalah sangat penting dan diperlukan sebgabai pembimbing petani sebagai penghubu ng antar petani dan pemerintah maka bada koordinasi penyuluhan pertanian, perikanan, dan kehutanan Provinsi Sulawesi Tenggara melalui kegiatan penyuluhan dan pendampingan dengan pola penerapan teknologi pertanian modern di Kecamata Basala, dimana tujuan untuk melanjutkan dan mengembangkan usaha pertanian dalam pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat tani mendiri dan maju serta menciptakan pengembangan ekonomi kerakyatan di Kecamatan Basala dengan terwujudnya kegiatan ini diharapkan : terselenggaranya program penyuluhan penerapan teknolgi pertanian modern bagi pelaku utama ataua kelompok tani poktan( di Desa Lipu Msagena, Kecamata Basala, Kabupataen Konawe Selatan).
Tecapainya penyaluran informasi penggunaan teknologi pertanian modern yang berhasil dan berdayaguna dalam meningkatkan produktivitas usaha pertanian.Merubah pola fikir pelaku utama yang tadinya masih menerapkan teknologi pertanian tradisional untuk mempergunakan teknologi peretanian modern guna peningkatan produksi dan kesejahteraan pelaku utama itu sendiri. Mengupayakan pelaku utama agar mampu mengelola system penerapan teknologi pertanian  modern secra baik, terencana dan berhasil.
4.2 PERAN PENYULUHAN PERTANIAN
Untuk membangun pertanian dibutuhkan SDM yang berkualitas.lebih dari itu, tersedianya SDM yang berkualitas merupakan modal utama bagi daerah untuk menjadi pelaku (actor), penggerak pembangunan didaerah. Karena itu untuk membangun pertanian kita harus membangun sumberdaya manusianya.
SDM yang perlu dibangun adalah SDM masyarakat pertanian (petani, nelayan, pengusaha, pertanian dan pedagang pertanian), agar kemampuan dan kompetensi kerja masyarakat pertanian dapat meningkat, karena merekalah yang langsung melaksanakan segala kegiatan usaha pertanian dilahan usahanya. Hal ini dapat dibangun melalui proses belajar manngajar dengan menggunakan system pembangunan non formal diluar sekolah secara efektif dan efisien diantaranya adalah penyuluhan pertanian.
Melaui penyuluhan pertanian, masyarakat dibekali dengan ilmu, pengetahuan, keterampilan, pengenalan paket teknologi dan inovasi baru dibidang pertanian dengan saptanya, penamaan nilai-nilai atau prinsip agribisnis .Mengkreasi sumber daya manusia dengan konsep dasar filosofi rajin, kooperatif, inovatif, kreatif, dan sebagainya.Yang lebih penting lagi adalah pengubah sikap dan prilaku masyarakat pertanian agar mereka tahu dan mau menerapkan informasi anjuran yang dibawa dan disampaikan oleh penyuluh pertanian.
Tujuan penyuluhan pertanian adalah dalam rangka menghasilkan SDM perilaku pembangunan pertanian yang kompeten sehingga mampu mengembangkan usaha pertanian yang tangguh, pertanian telah baik (better farming) berusaha tani lebih menguntungkan (better Bussines), hidup lebih sejahtera (better living) dan lingkungan lebih sehat.Penyuluhan pertanian dituntut agar mampu menggerakan masyarakat memperdayakan petani, nelayan, pengusaha pertanian, dan pedagang pertanian. Serta mendampingi petani untuk :
1.       Membantu menganalisis situasi-situasi yang sedang mereka hadapi dan melakukan perkiraan kedepan
2.       Membantu mereka menemukan masalah
3.       Membantu mereka memperoleh pengetahuan informasi guna memecahkan masalah
4.       Membantu mereka mengambil keputusan
5.       Membantu mereka menghitung besarnya resiko atas keputusan yang diambil
Keberhasilan penyuluhan pertanian dapat dilihat dengan indicator banyaknya petani, pengusaha pertanian dan pedagnag pertanian yang mampumegelola dan menggerakan usahanya secara mandiri, ketahanan pangan yang tangguh, tumbuhnya usaha pertanian skala rumah tangga sampai mencegah berbasis komoditi unggulan di desa.
Selanjutnya usaha tersebut dapat diharapkan berkembang mencapai skala ekonomis. Semua itu berkarelasi pada keberhasilan perbaikan ekonomi masyarakat, peningkatan pendapatan dan kesejahteraam masyarakat, lebih dari itu akan bermuara pada peningkatan pendapatan daerah. Kedepan arah pembangunan maju pada industrialisasi dibidang pertanian melalui pembangunan agribisnis yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Hal ini akan bisa diwujudkan dengan lebih dahulu menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas, terutama masyarakat pertanian, seningga kesinambungan dan ketangguhan petani dalam pembangunan pertanian bukan saka diukur dari kemampaun petani dalam menggelola sumberdaya alam secara rasional dan efisien, berpengetahuan, terampil, cakap dalam membaca peluang pasar dan mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan dunia khususnya perubahan dalam pembangunan pertanian. Disnilah pentingnya pembangunan pertanian untuk membangun dan menghasilkan SDM yang berkualitas.
Upaya mencapai itu semua diperlukan penyelenggara penyuluhan pertanian yang baik, selanjutnya dibutuhkan kelembagaan yang baik, ketenangan yang komponen, mekanisme dan tata kerja yang jelas termasuk suvervisi, monitoring dan evaluasi yang efektif dan pembiyayaan yang memadai. UU No. 16 Tahun 2006 sitem penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan (SP3K) sebagai wujud revatilasi penyluhan pertanian, telah mengatur penyelenggaraan penyuluhan yang baik. Untuk implentasi UU SP3K tersebut menghendaki kearipan lokal dari otonomi daerah.
Kedepan peran penyuluhan pertanian diposisikan pada posisi yang strategis dimana kelembagaan penyuluhan pertanian berada dan dapat berhubungan langsung dengan bupati, sehingga penyelenggara penyuluhan pertanian betul-betul terkoordinir dan bisa berjalan efektif dan efisien.
Pembanguna pertanian merupakan bagian terpenting dari pembangunan sebagian besar daerah Indonesia dan untuk membangunnya perlu dijunjung dengan SDM yang berkualitas.Dalam upaya memenuhi kebutuhan beras perlu melakukan dengan uapaya perluasan tanaman.Peningkatan indeks pertanaman dan menggenjot produktivitas tanaman padi.Namun hal yang cukup pundamental, mentalitas petani sebagai pelaku usaha tani padi perlu diperhatikan.
Semangat usaha yang cenderung menurun akibat dihadapkan pada nilau jual produk yang belum menguntungkan dan choise dengan produk komoditi usaha tani yang lain yang lebih menguntungkan. Kaeran itru petani padi kita perlu mendapatkan inpirasi yang selalu up to date agar tumbuh semangat motivasi dan gairah usaha dengan konsistensi dan komitmen yang tinggi untuk maju demi nusa dan bagnsa Indonesia. Untuk membangun itu semua, penyluhan pertanian memegang peran penting agar pertain berjalan efektif dan efisien. UU No. 16 tahun 2006 tentang penyuluhan hendaknya dapat diimplementasikan, tentunya menghendaki adanya kearifan lokal dab otonomi daerah.
Disisilain produktivitas tanaman padi memilki peluang yang lebih besar tingkatkan melalui varitas dengan varitas yang unggul baru, penerapan teknologi pengelolaan tanaman terpadu dan memasyarakatkan pengembangan tanaman padi hibrida. Jika peluang ketiga ini dapat dilaksanakan dengan baik , niscaya kebutuhan beras dapat dipenuhi dari produksi daerah sendiri sehingga infor beras tidak akan diperlukan lagi.
Namun, hal yang cukup pundamental, mentalitas petani sebagai pelaku usaha tani padi perlu diperhatikan. Semangat usaha yang cenderung menurun akibat yang diharapkan pada nilai jual produk yang  belum menguntungkan  dan choise de ngan produk komoditi usaha tani lain yang lebuh menguntungkan. Kaeran itu petani padi kiat perlu mendapatkan inpirasi yang selalu up to date agra tumbuh motivasi dan gairah usaha dengan konsisten dan komitmen yang tinggi untuk maju demi nusa dan bangsa
4.3 PUNGSI PENYULUHAN
Penyuluhan pertanian sangatlah perlu dalam pembangunan pertanian saat ini yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap petani sehingga sikap penyuluhan, masalah yang dihadapi oleh petani dan upaya pencegahannya dapat diselesaikan.
Berikut ini adalah pungsi penyuluhan peretanian, yaitu sebagai berikut :
1.       Penyuluhan pertanian sebagai proses penyebaran informasi penyuluhan pertanian.
merupakan proses penyebaran informasi yang diperlukan dan berkembang selama pelaksanaan pembengunan pertanian. Informasi tersebut berupa : inovasi yang telah diperoleh dari hasil kajian maupun maupun pengalaman dilapangan, masalah-masalah yang perlu dicari pemecahannya agar tujuan pembangunan pertanian  yang telah direncanakan dapat tercpai.
2.       Penyuluhan pertanian sebgai prosespenerangan modipikanto dan Sutami (1982), mengatakan istilah penyuluhan pertanian dari kata “Suluh” yang berarti pemberi terang ditengah-tengah kegelapan. Dengan demikian penyluhan peertanian diartikan sebgai berikut. “proses untuk memberikan penerangan kepada masyarakat (petani) tentang segala hal yang belum diketahui untuk dilaksanakan/diterapkan dalam rangka peningkatan produksi dan pendapatan yang ingin dicapaui melalui proses pembangunan pertanian.
3.       Penyuluhan pertanian sebagai proses perubahan perilaku penyuluhan pertaniajn merupakan suatu system pendidikan non formal yang tidak sekedar memberikan penerangan atau mejelaskan tetapi berupaya untuk merubah perilaku sasarannya agar memilki pengetahuan petani dalam berusahatani secara luas, memilki sikap progresif untuk melakukan perubahan dan inovatif terhadap sesuatu yang baru serta terampil dalam melaksanakan berbagai kegiatan.
4.       Penyuluhan pertanian sebagai proses pendidikan sebagai suatu system pendidikan non formal, penyuluhan pertanian adalah suatu pendidikan bagi oarang deawasa yang lebih mengutamakan terciptanya dialog. Oleh karena itu pertanian bukan merupakan pendidikan yang hanya “mencekoki” tanpa memberikan peluang kepada sasaran didik,mengutamakan pendapat dan penggalaman merupakan suatu hal yang sangat diper;lukan demi keberhasilan pembangunan pertanian.


DAFTAR PUSTAKA
Cherry. C. 1958. On The Coomunication.London : Pengamanan press.
            Cooley. C. 1909. Sosial Organization. New York : Charles Scribner’s.
Kincaid.D. l and W. Scramm. 1977. Azas-azas Komunikasi Antar Manusia. Jakarta : LP3ES
Leys.C . 1971.  Political Perpective Dalam Development In a Devided World. London     Penguin Books.
Margono.Slamet. 1971. Kumpulan Bacaan Penyuluh Pertanian. OP Cit : 3thn Edt.       





Read More....

Selasa, 13 Agustus 2013

Prinsip bljr
Beberapa prinsip pembelajaran dikemukakan oleh Atwi Suparman dengan mengadaptasi pemikiran Fillbeck (1974), sebagai berikut :
1. Respon-respon baru (new responses) diulang sebagai akibat dari respon yang terjadi sebelumnya.
2. Perilaku tidak hanya dikontrol oleh akibat dari respon, tetapi juga di bawah pengaruh kondisi atau tanda-tanda dilingkungan siswa.
3. Perilaku yang timbul oleh tanda-tanda tertentu akan hilang atau berkurang frekuensinya bila tidak diperkuat dengan akibat yang menyenangkan.
4. Belajar yang berbentuk respon terhadap tanda-tanda yang terbatas akan ditransfer kepada situasi lain yang terbatas pula.
5. Belajar menggeneralisasikan dan membedakan adalah dasar untuk belajar sesuatu yang kompleks seperti yang berkenaan dengan pemecahan masalah.
6. Situasi mental siswa untuk menghadapi pelajaran akan mempengaruhi perhatian dan ketekunan siswa selama proses siswa belajar.
7. Kegiatan belajar yang dibagi menjadi langkah-langkah kecil dan disertai umpan balik menyelesaikan tiap langkah, akan membantu siswa.
8. Kebutuhan memecah materi kompleks menjadi kegiatan-kegiatan kecil dapat dikurangi dengan mewujudkan dalam suatu model.
9. Keterampilan tingkat tinggi (kompleks) terbentuk dari keterampilan dasar yang lebih sederhana.
10. Belajar akan lebih cepat, efisien, dan menyenangkan bila siswa diberi informasi tentang kualitas penampilannya dan cara meningkatkannya.
11. Perkembangan dan kecepatan belajar siswa sangat bervariasi, ada yang maju dengan cepat ada yang lebih lambat.
12. Dengan persiapan, siswa dapat mengembangkan kemampuan mengorganisasikan kegiatan belajarnya sendiri dan menimbulkan umpan balik bagi dirinya untuk membuat respon yang benar.

Prinsip-prinsip belajar berikut ini dikemukakan oleh para ahli bidang psikologi pendidikan (Sagala, 2011):
1. Law of effect yaitu bila hubungan antara stimulus dengan respon terjadi dan diikuti dalam keadaan memuaskan, maka hubungan itu diperkuat.
2. Spread of effect yaitu reaksi emosional yang emosional yang mengiringi kepuasan itu tidak terbatas kepada sumber utama pemberi kepuasan, tetapi kepuasan mendapat pengetahuan baru.
3. Law of exercise yaitu hubungan antara perangsang dan reaksi diperkuat dengan latihan dan penguasaan, sebaliknya hubungan itu melemahkan jika dipergunakan.
4. Law of readiness yaitu bila satuan-satuan dalam sistem syaraf telah siap berkonduksi, dan hubungan itu berlangsung, maka terjadinya hubungan itu akan memuaskan.
5. Law of primacy yaitu hasil belajar yang diperoleh melalui kesan pertama akan sulit digoyahkan.
6. Law of intensity yaitu belajar memberi makna yang dalam apabila diupayakan melalui kegiatan yang dinamis.
7. Law of recency yaitu bahan yang baru dipelajari akan lebih mudah diingat.
8. Fenomena kejenuhan
9. Belongingness yaitu keterikatan bahan yang dipelajari pada situasi belajar akan mempermudah berubahnya tingkah laku.
Prinsip belajar menurut ilmu Jiwa Gestalt, antara lain:
a)           Manusia bereaksi dengan lingkungan secara keseluruhan melalui intelek, emosi, sosial, fisik dan sebagainya.
b)          Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
c)           Manusia berkembang secara keseluruhan, lengkap dengan semua aspekaspeknya.
d)          Belajar adalah perkembangan ke arah deferensiasi.
e)           Belajar akan berhasil jika telah ada kematangan untuk memperoleh insigt.
f)  Tidak mungkin ada kegiatan belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, atau motivasi yang menggerakkan seluruh organisme,
g)           Belajar itu merupakan proses aktif, bukan mengisi bejana.

Prinsip-prinsip Belajar
1)          Belajar pada hakekatnya berkaitan dengan potensi manusiawi dan kelakuannya.
2)          Belajar memerlukan proses dan pentahapan, serta kematangan si pembelajar
3)          Belajar lebih mantap dan efektif, bila didorong oleh motivasi terutama motivasi dan dalam diri akan berbeda dengan belajar karena terpaksa, belajar karena takut.
4)          Dalam banyak hal, belajar merupakan proses coba-coba dengan kemungkinan keliru, dan pembiasaan atau conditioning.
5)          Kemampuan belajar seseorang harus diperhitungkan dalam menentukan isi pelajaran.
6)          Belajar dapat dilakukan dengan tiga cara, yakni:  a) diajar secara langsung, b) kontrol, kontak, penghayatan, pengalaman langsung, misalnya belajar bicara, sopan santun dan lain-lain. Dan c) Pengenalan dan atau peniruan
7)          Belajar melalui praktik atau mengalami langsung akan lebih efektif daripada dengan menghafal
8)          Pengalaman banyak mempengaruhi kemampuan belajar yang bersangkutan.
9)          Bahan belajar yang bermakna lebih mudah dan menarik untuk dipelajari dibandingkan bahan yang kurang bermakna.
10) Infomasi tentang kelakuan baik, pengetahuan, kesalahan serta keberhasilan belajar, banyak membantu kelancaran dan gairah siswa.
11) Belajar sedapat mungkin diubah ke dalam bentuk aneka ragam tugas, sehingga yang belajar dapat berdialog dengan dirinya atau mengalami sendiri.

Jenis-jenis belajar

Robert M. Gagne
Manusia memilki beragam potensi, karakter, dan kebutuhan dalam belajar. Karena itu banyak tipre-tipe belajar yang dilakukan manusia. Gagne mencatat ada delapan tipe belajar :
1. Belajar isyarat (signal learning). Menurut Gagne, ternyata tidak semua reaksi sepontan manusia terhadap stimulus sebenarnya tidak menimbulkan respon.dalam konteks inilah signal learning terjadi. Contohnya yaitu seorang guru yang memberikan isyarat kepada muridnya yang gaduh dengan bahasa tubuh tangan diangkat kemudian diturunkan.
2. Belajar stimulus respon. Belajar tipe ini memberikan respon yang tepat terhadap stimulus yang diberikan. Reaksi yang tepat diberikan penguatan (reinforcement) sehingga terbentuk perilaku tertentu (shaping). Contohnya yaitu seorang guru memberikan suatu bentuk pertanyaan atau gambaran tentang sesuatu yang kemudian ditanggapi oleh muridnya. Guru member pertanyaan kemudian murid menjawab.
3. Belajar merantaikan (chaining). Tipe ini merupakan belajar dengan membuat gerakan-gerakan motorik sehingga akhirnya membentuk rangkaian gerak dalam urutan tertentu. Contohnya yaitu pengajaran tari atau senam yang dari awal membutuhkan proses-proses dan tahapan untuk mencapai tujuannya.
4. Belajar asosiasi verbal (verbal Association). Tipe ini merupakan belajar menghubungkan suatu kata dengan suatu obyek yang berupa benda, orang atau kejadian dan merangkaikan sejumlah kata dalam urutan yang tepat. Contohnya yaitu Membuat langkah kerja dari suatu praktek dengan bntuan alat atau objek tertentu. Membuat prosedur dari praktek kayu.
5. Belajar membedakan (discrimination). Tipe belajar ini memberikan reaksi yang berbeda–beda pada stimulus yang mempunyai kesamaan. Contohnya yaitu seorang guru memberikan sebuah bentuk pertanyaan dalam berupa kata-kata atau benda yang mempunyai jawaban yang mempunyai banyak versi tetapi masih dalam satu bagian dalam jawaban yang benar. Guru memberikan sebuah bentuk (kubus) siswa menerka ada yang bilang berbentuk kotak, seperti kotak kardus, kubus, dsb.
6. Belajar konsep (concept learning). Belajar mengklsifikasikan stimulus, atau menempatkan obyek-obyek dalam kelompok tertentu yang membentuk suatu konsep. (konsep : satuan arti yang mewakili kesamaan ciri). Contohnya yaitu memahami sebuah prosedur dalam suatu praktek atau juga teori. Memahami prosedur praktek uji bahan sebelum praktek, atau konsep dalam kuliah mekanika teknik.
7. Belajar dalil (rule learning). Tipe ini meruoakan tipe belajar untuk menghasilkan aturan atau kaidah yang terdiri dari penggabungan beberapa konsep. Hubungan antara konsep biasanya dituangkan dalam bentuk kalimat. Contohnya yaitu seorang guru memberikan hukuman kepada siswa yang tidak mengerjakan tugas yang merupakan kewajiban siswa, dalam hal itu hukuman diberikan supaya siswa tidak mengulangi kesalahannya.
8. Belajar memecahkan masalah (problem solving). Tipe ini merupakan tipe belajar yang menggabungkan beberapa kaidah untuk memecahkan masalah, sehingga terbentuk kaedah yang lebih tinggi (higher order rule). Contohnya yaitu seorang guru memberikan kasus atau permasalahan kepada siswa-siswanya untuk memancing otak mereka mencari jawaban atau penyelesaian dari masalah tersebut.
Jenis-jenis belajar
Belajar sebagai suatu aktivitas mencakup berbagai jenis-jenis belajar, yaitu:
a.       Belajar bagian, yaitu peserta didik belajar dengan membagi-bagi materi pelajaran kedalam bagian-bagian agar mudah dipelajari untuk memahami makna materi pelajaran secara keseluruhan.
b.      Belajar dengan wawasan, yaitu belajar yang berdasar pada teori wawasan yang menyatakan bahwa belajar merupakan proses mereorganisasikan pola-pola perilaku yang terbentuk menjadi satu tingkah laku yang ada hubungannya dengan penyelesaian suatu persoalan.
c.       Belajar deskriptif yaitu suatu usaha untuk memilih beberapa sifat situasi rangsangan dan kemudian menjadikannya sebagai pedoman dalam berperilaku.
d.      Belajar secara global adalah individu mempelajari secara keseluruhan bahan pelajaran lalu dipelajari secara berulang untuk dikuasai.
e.       Belajar incidental yaitu proses yang terjadi secara sewaktu-waktu tanpa adanya petunjuk yang diberikan oleh guru sebelumnya.
f.       Belajar instrumental adalah proses belajar yang terjadi karena adanya hukuman dan hadiah dari guru sebagai alat untuk menyukseskan aktivitas peseta didik.
g.      Belajar intensional ialah belajar yang memilikii arah, tujuan, dan petunjuk yang dijelaskan oleh guru.
h.      Belajar laten adalah belajar yang ditandai dengan perubahan-perubahan perilaku yang terlihat tidak terjadi dengan segera.
i.        Belajar mental adalah perubahan kemungkinan tingkah laku yang terjadi pada individu tidak nyata terlihat, melainkan hanya berupa perubahan proses kognitif dari bahan yang dipelajari.
j.        Belajar produktif ialah belajar dengan transfer meksimum.
k.      Belajar verbal adalah belajar dengan materi verbal dengan melalui proses latihan dan proses ingatan.[20]

Tujuan beljar
Tujuan pembelajaran adalah perubahan prilaku dan tingkah laku yang positif dari peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, seperti: perubahan yang secara psikologis akan tampil dalam tingkah laku (over behaviour) yang dapat diamati melalui alat indera oleh orang lain baik tutur katanya, motorik dan gaya hidupnya.
Benyamin S Bloom, menggolongkan bentuk tingkah laku sebagai tujuan belajar atas tiga ranah, yakni:
1.      Ranah kognitif berkaitan dengan perilaku yang berhubungan dengan berpikir, mengetahui, dan memecahkan masalah. Ranah kognitif menurut Bloom, et.al (Winkel, 1999; Dimyati & Modjiono, 1994) dibedakan atas 6 tingkatan dari yang sederhana hingga yang tinggi, yakni:
a.       Pengetahuan (knowledge), meliputi kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan.
b.      Pemahaman (comprehension), meliputi kemampuan menangkap arti dan makna dari hal yang dipelajari. Ada tiga subkategori dari pemahaman, yakni:
1)      Translasi, yaitu kemampuan mengubah data yang disajikan dalam suatu bentuk ke dalam bentuk lain.
2)      Interpretasi, yaitu kemampuan merumuskan pandangan baru
3)      Ekstrapolasi, yaitu kemampuan meramal perluasan trend atau kemampuan meluaskan trend di luar data yang diberikan
c.       Penerapan (aplication), meliputi kemampuan menerapkan metode dan  kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru.
d.      Analisis (analysis), meliputi kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Analisis dapat pula dibedakan atas tiga jenis, yakni:
1)      Analisis elemen, yaitu kemampuan mengidentifikasi dan merinci elemen-elemen dari suatu masalah atau dari suatu bagian besar.
2)      Analisis relasi, yaitu kemampuan mengidentifikasi relasi utama antara elemen-elemen dalam suatu struktur.
3)      Analisis organisasi, yaitu kemampuan mengenal semua elemen dan relasi dari struktur kompleks.
e.       Sintesis (synthesis), meliputi kemampuan membentuk suatu pola baru dengan memperhatikan unsur-unsur kecil yang ada atau untuk membentuk struktur atau sistem baru. Dilihat dari segi produknya, sintesis dapat dibedakan atas:
1)      Memproduksi komunikasi unik, lisan atau tulisan
2)      Mengembangkan rencana atau sejumlah aktivitas
3)      Menurunkan sekumpulan relasi-relasi abstrak
f.       Evaluasi (evaluation), meliputi kemampuan membentuk pendapat tentang sesuatu atau beberapa hal dan pertanggungjawabannya berdasarkan kriteria tertentu.
2.      Ranah afektif berkaitan dengan sikap, nilai-nilai, minat, aspirasi dan penyesuaian perasaan sosial. Ranah efektif menurut Karthwohl dan Bloom (Bloom.,et.al,1971) terdiri dari 5 jenis perilaku yang diklasifikasikan dari yang sederhana hingga yang kompleks, yakni:
a.       Penerimaan (reseving) yakni sensitivitas terhadap keberadaan fenomena atau stimuli tertentu, meliputi kepekaan terhadap hal-hal tertentu, dan kesediaan untuk memperhatikan hal tersebut.
b.      Pemberian respon (responding) yakni kemampuan memberikan respon secara aktif terhadap fenomena atau stimuli.
c.       Penilaian atau penentuan sikap (valuing) yakni kemampuan untuk dapat memberikan penilaian atau pertimbangan terhadap suatu objek atau kejadian tertentu.
d.      Organisasi (organization), yakni konseptualisasi dari nilai-nilai untuk menentukan keterhubungan diantara nilai-nilai.
e.       Karakterisasi, yakni kemampuan yang mengacu pada karakter dan gaya hidup seseorang.
3.      Ranah psikomotor mencakup tujuan yang berkaitan dengan keterampilan (skill) yang bersifat manual dan motorik. Ranah psikomotor menurut Simpson (Winkel, 1999;Fleishman & Quaintance, 1984) dapat diklasifikasikan atas:
a.       Persepsi (perception), meliputi kemampuan memilah-milah 2 perangsang atau lebih berdasarkan perbedaan antara ciri-ciri fisik yang khas pada masing-masing perangsang.
b.      Kesiapan melakukan suatu pekerjaan (set), meliputi kemampuan menempatkan diri dalam keadaan dimana akan terjadi suatu gerakan atau rangkaian gerakan.
c.       Gerakan terbimbing (mechanism), meliputi kemampuan melakukan gerakan sesuai contoh atau gerak peniruan.
d.      Gerakan terbiasa, meliputi kemampuan melakukan suatu rangkaian gerakan dengan lancar, karena sudah dilatih sebelumnya.
e.       Gerakan kompleks (complex overt response), meliputi kemampuan untuk melakukan gerakan atau keterampilan yang terdiri dari beberapa komponen secara lancar, tepat, dan efisien.
f.       Penyesuaian pola gerakan (adaptation), meliputi kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerik dengan persyaratan khusus yang berlaku.
g.      Kreativitas, meliputi kemampuan melahirkan pola gerak-gerik yang baru atas dasar prakarsa dan inisiatif sendiri.


Tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa yang telah melakukan tugas belajar yang umumnya meliputi pengetahuan,keterampilan, dan sikap-sikap yang baru, yang diharapkan tercapai oleh siswa. Tujuan belajar adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsungnya proses belajar.
Read More....

Copyright © 2012 aah iwooo ( j-frog ) | Another Theme | Designed by Johanes DJ